Selasa, 22 Februari 2011

Gangguan Genetik Sindrom Down

Sindrom Down adalah sebuah gangguan genetik yang disebabkan oleh trisomi kromosom 21. Gangguan ini adalah gangguan kromosom tersering yang dijumpai dalam kelahiran hidup, yaitu 1 dari 800 kelahiran hidup. Pada 95% kasus, sindrom Down disebabkan oleh nondisjungsi kromosom ibu nomor 21 selama meiosis. Insidens sindrom Down yang berhubungan dengan nondisjungsi meningkat seiring dengan usia ibu. Sindrom Down terjadi pada 1 dari 1350 bayi yang lahir dari ibu berusia kurang dari 24 tahun, dan 1 dari 65 bayi yang lahir dari ibu berusia 41 sampai 45 tahun. Kurang dari 5% kasus sindrom Down yang dapat dilacak berasal dari kromosom ekstra ayah. Penyebab sindrom Down ketiga yang tidak lazim adalah translokasi total atau sebagian dari salah satu duplikat kromosom 21 normal menjadi kromosom yang berbeda, biasanya menjadi kromosom 13, 14, 15, 18, atau 22, namun kromosom lain juga dapat menjadi target. Anak yang mengidap sindrom Down memiliki tingkat retardasi mental yang bervariasi, sering dapat diintervensi secara positif dengan program intervensi anak secara dini.
Gambaran Klinis
• Tingkat retardasi mental bervariasi.
• Mata Sipit ke arah atas, tangan pendek, hanya memiliki satu lipatan pada telapak tangan (simian crease), dan telinga letak rendah.
• Tubuh pendek.
• Lidah menonjol.
Perangkat Diagnostik
• Uji genetik pranatal (amniosentesis atau pengambilan sampel vilus korion) dapat mengidentifikasi janin pengidap sindrom Down.
• Pemeriksaan darah ibu dapat mengidentifikasi janin yang berisiko tinggi mengidap sindrom Down. Dalam sebuah uji yang disebut uji quad, empat bahan maternal yang bersirkulasi ditubuh diukur se- lama trimester dua kehamilan. Setelah didapatkan hasilnya, kasus sindrom Down pada ibu adalah 75 % pada ibu berusia kurang dari 35 tahun dan 85%-90% pada ibu berusia 35 tahun atau lebih. Bahan maternal ini meliputi:
Estriol tak-terkonjugasi (uE3).
uE3 diproduksi oleh plasenta. Kadarnya menurun sekitar 25% dalam serum ibu yang kehamilannya disertai sindrom Down dibandingkan kehamilan tanpa sidrom Down.
• Alfafetoprotein (AFP). AFP adalah protein serum utama dari janin. AFP berpindah dari sirkulasi janin ke sirkulasi maternal. Kadar AFP menurun pada serum maternal ibu yang mengandung janin sindrom Down. Kadar AFP juga digunakan untuk mendeteksi defek tuba neural janin dan anensefali, dan kadar AFP meningkat pada kedua defek ini.
Human chorionic gonadotropin (hCG). hCG diproduksi selama ke-hamilan, awalnya oleh trofoblas dan kemudian oleh plasenta. Kadarnya dalam serum maternal lebih tinggi pada kehamilan dengan sindrom Down dibandingkan tanpa sindrom Down.
Inhibin A.
Inhibin A adalah suatu glikoprotein yang dibentuk selama kehamilan terutama oleh plasenta. Inhibin A meningkat pada ibu yang mengandung janin sindrom Down.
• Skrining ultrasound pranatal menunjukkan adanya tanda-tanda fisik janin sindrom Down, terutama kelainan dalam ketebalan nuchal (bagian belakang leher).
• Karyotyping genetik setelah lahir dapat memastikan diagnosis klinis sindrom Down.
Komplikasi
• Defek kongenital jantung atau organ lain sering terjadi berkaitan dengan sindrom Down.
• Risiko leukemia di masa kanak-kanak dapat meningkat pada anak pengidap sindrom Down. Hal ini berkaitan dengan pengamatan bahwa sebagian bentuk leukemia dapat berhubungan dengan defek pada kromosom 21. Pengidap sindrom Down juga biasanya menderita penyakit Alzheimer selama empat atau lima dekade kehidupannya. Hal ini berkaitan dengan hasil pengamatan bahwa penyakit Alzheimer dapat muncul sebagian karena defek pada kromosom 21.
• Sekitar 20% janin sindrom Down mengalami abortus spontan ‘antara masa kehamilan 10 dan 16 minggu. Banyak janin tidak berimplantasi pada endometrium atau ibu mengalami keguguran sebelum masa kehamilan 6 sampai 8 minggu.
Penatalaksanaan
• Mungkin diperlukan pembedahan apabila terdapat defek kongenital lain.
• Program intervensi dini dapat membatasi derajat retardasi mental.
Pustaka
Buku Saku Patofisiologi Corwin Oleh Elizabeth J. Corwin

Gagal ginjal kronis (chronic renal failure, CRF)

Gagal ginjal kronik (chronic renal failure, CRF) terjadi apabila kedua ginjal sudah tidak mampu mempertahankan lingkungan dalam yang cocok untuk kelangsungan hidup. Kerusakan pada kedua ginjal ini ireversibel. Eksaserbasi nefritis, obstruksi saluran kemih, kerusakan vaskular akibat diabetes melitus, dan hipertensi yang berlangsung terus-menerus dapat mengakibatkan pembentukan jaringan parut pembuluh darah dan hilangnya fungsi ginjal secara progresif. CRF berbeda dengan ARF. Pada CRF, kerusakan ginjal bersifat progresif dan ireversibel. Progresi CRF melewati empat tahap, yaitu penurunan cadangan ginjal, insufisiensi ginjal, gagal ginjal, dan end-stage renal disease.
Penyebab utama Gagal ginjal kronis adalah Glomerulonefritis kronis, Nefropati diabetik, Nefritis interstisialis kronis dan Hipertensi. Perkiraan prevalensi gagal ginjal kronis akibat hipertensi primer sangat beragam mulai dari 0,002 sampai 20% dari semua kasus gagal ginjal, mencerminkan fakta bahwa diagnosis penyakit ginjal akibat hipertensi tergantung pada penyingkiran sebab lain. Banyak kasus mungkin memiliki penyakit ginjal yang
tidak terdiagnosis. Gagal ginjal akibat hipertensi jauh lebih sering pada orang kulit hitam daripada kulit putih, dan pada populasi kulit hitam terdapat kelompokan familial penyakit ginjal akibat hipertensi, menunjukkan adanya kerentanan genetik terhadap kerusakan ginjal hipertensif.
- Penyakit renoyaskular.
- Penyakit ginjal herediter
- Penyakit polikistik
Suatu kondisi dominan autosomal di mana gagal ginjal terjadi akibat degenerasi kistik progresif ginjal. Pasien datang dengan keluhan utama hipertensi, nyeri perut, hematuria, atau gagal ginjal kronis. Diagnosisnya ditegakkan melalui pemeriksaan ultrasonografi, dan harus dilakukan skrining pada anggota keluarga. Progresi ke arah gagal ginjal disertai hipertensi sering terjadi, walaupun usia ketika dilakukan terapi penggantian ginjal sangat beragam. Sekitar 85% kasus disebabkan oleh defek gen PKDI yang memetakan 16p13.3. Gen PKD2, yang bertanggung jawab atas sebagian besar penyakit ginjal polikistik yang tak terkait dengan 16p, telah dilokalisasi di 4q13-q23.
Penyakit ini harus dianggap sebagai penyakit multisistem di mana terjadi kista pada organ lain (hati, pankreas, testis). Terdapat peningkatan insidensi penyakit katup jantung, aneurisma serebral, hernia, dan penyakit divertikular. Pada saat ini belum diketahui adanya defek selular dasar. Analisis sekuens DNA yang tersedia sampai saat ini belum menunjukkan homologi dengan protein lain yang diketahui. Karakterisasi protein akan membantu menjelaskan patologi molekular.